REFLEKSIANA

by thomas gunawan wibowo

Susahnya Jadi Guru Kreatif

Leave a comment

IMG_2572 Dalam sebuah seminar, dihadapan publik pendidik dan guru, beberapa waktu lalu, Seto Mulyadi, Ketua Komisi Perlindungan Anak, menyentil para guru, agar menjadi guru kreatif bagi para anak didiknya.

Dia mengingatkan, “Anak-anak membutuhkan sosok guru yang kreatif sehingga bisa membawakan setiap pelajaran dengan cara menyenangkan. Sosok guru seperti itu, akan mendorong anak terus belajar. Jika guru kreatif, anak dengan sendirinya juga akan menjadi kreatif (Kompas, 24 Maret 2009)”, demikian menurut Seto Mulyadi.

Tantangan masa depan, dengan karakteristik perkembangan masyarakat dan dunia yang semakin kompleks, membuat anak didik ini memerlukan pengajaran dan proses pembelajaran yang membuat mereka menjadi kreatif pula.

Adalah Nancy Walser, sebagaimana dikutip Manthey, G. (2008), dalam tulisannya berjudul Attaining 21st century skills in a complex world, mengingatkan sekolah agar membekali anak didiknya dalam hal berpikir kritis, kemampuan kerja sama, keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, bekerja mandiri,  memimpin, beradaptasi secara cepat, dan tanggung jawab, serta memiliki wawasan global.

Apa yang dikawatirkan oleh Walser, sekarang telah terbukti. Perkembangan masyarakat didominasi oleh mereka yang memiliki pemahaman, ketrampilan dan pengetahuan yang cukup tentang hal yang disebutkan tadi.

Siapa yang membantu anak didik memiliki segudang “kemampuan” itu? Kita setuju, sekolah tidak akan mampu melakukan semua itu, namun harapan masyarakat, dan itu tidak salah, akan menaruh harapan itu pada institusi yang disebut sekolah. Hampir sebagian besar waktu kehidupan anak dialaminya bersama sekolah. Dalam hal ini, guru adalah sosok yang akhirnya mempunyai peran besar di dalamnya.

Peran guru dan sekolah

Peran guru dan sekolah bagi anak didik bersifat unik. Unik, karena mereka tidak bisa menggeneralisir kebutuhan anak didik dalam cara, bentuk, dan ukuran yang sama. Sekolah dituntut, idealnya, diharpkan mampu memfasilitasi beragam potensi dan kebutuhan anak didiknya yang beragam itu.

Idealnya sebuah sekolah, menurut Stoll (1996), mampu memberikan pelayanan optimal kepada anak didiknya. Sekolah mampu mendorong kemajuan anak didik, tanpa terkecuali, terlepas dari latar belakang kemampuan dan beragam faktor lainnya. Ia juga diharapkan dapat menjamin bahwa setiap peserta didik mampu mencapai standar optimal yang bisa mereka raih.

Sekolah pun bertanggungjawab agar seluruh aspek dalam diri peserta didik, baik terkait hal akademik maupun di luar akademik berkembang secara penuh, dan hal demikian hanya mungkin terjadi manakala sekolah secara terus-menerus menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi setiap anak didiknya.

Tantangan pengajaran dan pembelajaran saat ini, kata guru matematika, telah berubah 180 derajat. Perkembangan teknologi-informasi, perubahan struktur masyarakat, dan maju pesatnya pengetahuan, serta munculnya teori pembelajaran baru telah mengubah hal yang esensi dari tugas pokok seorang guru.

Ia bukan lagi “aktor” di kelas, dengan kekuasaannya dan pengetahuannya, yang mengatur apa pun yang terjadi di kelas. Guru bukan lagi “sumur kang lumaku tinimba”, sumber dan mata air satu-satunya dalam pembelajaran di kelas. Sekarang, justru siswa yang menjadi pusat pembelajaran yang sesungguhnya. Peran guru beralih, ia lebih menjadi fasilitator bukan sekedar orator, yang hanya bisa memerintah anak didiknya melakukan ini atau itu. Ia juga lebih menjadi motivator dan bukan eksekutor.

Setiap anak memiliki beragam kekhasan dan keunikan. Dalam belajar, ia menggunakan dari yang visual, audio, sampai kinestetik. Gardner, juga mengingatkan adanya multikecerdasan pada setiap anak mulai bersifat logis-matematis, linguistik, musik, sampai yang intrapersonal sifatnya. Piaget, juga menekankan pentingnya guru memahami tahap perkembangan kognitif anak mulai sensori motor sampai operasional formal. Atau juga, Vygotsky dengan ZPD (zona of proximal development)-nya.

Kita mengetahui pula taksonomi Bloom, dengan enam fase akusisi pengetahuannya. Kohlberg dengan tahapan perkembangan moralnya. Atau, bagaimana perkembangan usia pada diri anak, sejak usia taman bermain sampai dewasa ternyata memiliki karakteristik perkembangan sosial, moral, emosional, dan kognitif yang harus di sadari seorang guru.

Semua itu tentu saja menuntut sebuah peran baru, unik, namun juga tidak “gampang” dari seorang guru. Ia mengandaikan seorang guru yang “khas”, guru memahami konteks yang luas itu, terampil dan kreatif dalam pendekatan mengajar, mampu memahami dan memfasilitasi keberbedaan dalam diri setiap anak didik.

Seorang guru yang juga memberi ruang dan mampu bersikap toleran, dalam memandang setiap perbedaan anak didiknya. Ia melihat beragam kebenaran, dengan beragam cara dan pendekatan yang berbeda pula tentunya, dalam diri anak didik.

Peran itu tidak akan mungkin dijalankan seorang guru, ketika mereka sendiri tidak mau menyiapkan diri, belajar terus menerus, dan mengembangkan diri ke arah tersebut.

Teacher as adult learner

Tujuan utama proses pendidikan dan pengajaran di sekolah adalah kemajuan, perkembangan, dan prestasi belajar anak didik. Seorang guru, dengan peran yang berbeda dibandingkan masa lampau, tetaplah ia memiliki pengaruh yang demikian besar bagi anak didiknya.

Barth (1990), mengingatkan peran itu dengan mengatakan, “mungkin tiada satu pun pihak di sekolah yang mempunyai pengaruh lebih besar kepada siswa atas perkembangan keterampilan, rasa percaya diri, atau perilakunya di kelas daripada pribadi dan profesionalitas guru-guru mereka” katanya.

Ungkapan yang indah itu menyadarkan kaum guru, bahwa tanpa terus mengembangkan diri, terbuka atas setiap informasi, perubahan, dan kemauan terus belajar atau dengan kata lain menjadi guru yang kreatif, peran guru yang demikian itu tidak akan pernah terjadi.

Guru adalah seorang pembelajar. Sebagai pembelajar, guru memiliki karakteristik belajar yang berbeda dibandingkan seorang anak. Ia adalah pembelajar yang dewasa (adult learner). Karakteristik belajarnya bersifat khas, misalnya, seorang guru mempunyai cara belajar mandiri, mereka senantiasa memanfaatkan atau mengaitkan dengan pengetahuan atau pemahaman yang mereka miliki sebelumnya.

Mereka belajar secara kontekstual, senantiasa harus menemukan kaitan yang dipelajari dengan situasi nyata dalam hidupnya. Model pembelajaran sifatnya pemecahan masalah (problem solving), lebih menarik, dibandingkan yang teoritikal sifatnya. Seorang guru selalu fokus dengan tujuan (goal), daripada sekedar rutinitas yang tidak jelas arahnya.

Ia lebih tergerak oleh pendekatan atau cara pengajaran, daripada sekedar isi yang diajarkan. Ia lebih tersentuh, ketika disapa secara pribadi, dan dihargai. Ia ingin, kemanusiaan, kedewasaan, dan pengalamannya disentuh dan diperhatikan. Ia selalu kontektual, dan tak bisa lepas dari masa lalu, serta situasi sekitarnya.

Suasana interaktif, berbagi pengalaman, dan apresiasi yang sifatnya positif akan lebih membuat mereka termotivasi dan lebih terbuka terhadap sesuatu yang baru. Perubahan yang sifatnya radikal, dengan tegangan emosionalitas yang tinggi, berisiko, dan mengusik wilayah kenyamanannya, biasanya tidak sedemikian membuat mereka antusias, terdorong , mau terlibat, dan berubah lebih dalam.

Ruang-ruang kreatif

Dalam pandangan saya setidaknya ada dua ruang yang dapat membuat guru mampu berkembang menjadi pribadi kreatif. Ruang itu bersifat internal (dalam dirinya sendiri), dan kedua sifatnya ekternal (lingkungan sekitarnya).

Dalam dirinya harus tertanam, dalam istilah Fullan (1993), jiwa inquiry. Proses formasi dan pembentukan karakter serta cita-cita pribadi bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Ini merupakan proses tanpa henti, dan berlangsung sepanjang hayat. Kegiatan paling esensial seorang guru yang berjiwa inquiry adalah bertanya. Ia mempertanyakan apa saja, termasuk sejauh mana pengajarannya masih relevan atau tidak dengan kebutuhan anak didiknya.

Kebiasaannya untuk “mempersoalkan dan menguji beragam hal” merupakan hal mendasar pada diri seorang berjiwa inquiry. Ia melakukannya dalam beragam aktifitas pribadi seperti praktek reflektif, jurnal pribadi, penelitian tindakan, bekerja di bawah pengawasan, dan kerjasama dengan rekan sejawat merupakan strategi yang bisa dilakukan. Melalui prose situ ia menginternalisasikan norma, kebiasaan, dan teknik belajar berkelanjutan.

Sementara faktor eksternal, tidak lain adalah lingkungan sekolah itu sendiri. Pemahaman karakteristik belajar guru sebagai adult learners, akan membantu pimpinan atau pemangku kepentingan sekolah dalam mendesain bentuk-bentuk pembelajaran efektif bagi pengembangan profesionalitas mereka.

Serangkaian penataran, seminar, pelatihan, atau kegiatan pengembangan edukatif bagi guru, mempunyai tujuan yang menjulang tinggi dan mulia, namun acapkali kurang mengakomodasi beragam kepentingan dan cara belajar guru sebagai adult learners. Yang terjadi adalah, kegiatan itu menjadi semacam penataran P-4, pada masa Orde Baru dulu, namun tanpa pernah mengubah apa pun. Ia kurang memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikan (interest), kesiapan (readiness), dan karakteristik belajar guru (learning style) yang berbeda.

Celakanya, suasana itu dilengkapi anggapan, bahwa beragam kegiatan pembinaan, lebih terkesan formalitas, hanyalah proyek semata dan sekedar untuk menghabiskan anggaran. Sebagai contoh, kegiatan workshop atau lokakarya yang sering diselenggarakan pemerintah atau dinas pendidikan, tidak pernah efektif. Waktu pelatihan yang sedianya 6 hari, dipersingkat menjadi 3 hari, dengan uang saku tetap sama.

Pada sisi tertentu, guru merasa “senang” karena kegiatan yang melelahkan, dan barangkali membosankan itu lebih cepat selesai. Sebaliknya, pada sisi yang lain, dalam hatinya, semakin membenarkan asumsinya, bahwa mereka hanyalah obyek belaka. Bukan demi pemahaman, pengetahuan,dan keterampilan mereka itu sendiri.

Mudah ditebak, hasilnya adalah guru merasa bosan, digurui, menolak, pesimis, dan akhirnya justru menjadi tidak termotivasi belajar. Kegiatan yang menhabiskan angka rupiah mahal itu, kurang atau tidak mempu menjadi pemantik api kreatifitas guru dalam mengembangkan instruksional pengajarannya di kelas.

Semua itu menjadi lengkap, tatkala para guru itu juga tak mengalami sapaan dan sentuhan dari lingkungannya atas apa yang telah mereka terima. Mereka tidak mengalami bentuk-bentuk kegiatan pendampingan di sekolah. Ini acapkali dilupakan, keinginan dan semangat belajar yang tinggi para guru tidak terwadahi dan terdampingi secara berkelanjutan dalam bentuk komunitas pembelajar di sekolah.

Selesai seorang guru mengikuti pelatihan atau seminar di luar sekolah, selesai juga proses belajar sang guru itu. Ia kembali dalam tradisi lama pengajarannya bersama anak didiknya. Perubahan guru lebih bersifat artificial, misalnya berapa jumlah sertifikat yang dimiliki guru itu, daripada yang sifatnya incremental, yakni perubahan “kebiasaan” yang dilakukan guru dalam meningkatkan efektifitas pembelajarannya.

Maka, peran pimpinan sekolah yang diharapkan adalah, bagaimana sekolah perlu menciptakan lingkungan dan suasasa di mana mereka dapat saling berbagi dan “menularkan” pemahaman, pengetahuan, serta keterampilan yang dimilikinya itu kepada rekan lain. Dalam proses interaktif tersebut, akan terjadi proses pemurnian pemahaman dan disekuilibrium atas pengetahuan yang dimilikinya.

Belajar melalui mengajar atau berbagi pengetahuan dengan rekan sesama guru, misalnya, selain meningkatkan pemahaman dan keterampilannya sendiri, akan membuat apa yang dipelajarinya itu menjadi lebih mengendap, aktual, dan hidup. Proses guru mengadopsi pengetahuan tidak berhenti pada tataran akusisi belaka, namun masuk ranah internalisasi dan aktualisasi yang terjadi melalui proses interaktif yang terjadi bersama rekan guru lainnya.

Melalui cara semacam itu, sebenarnya sekolah telah menjalankan salah satu bentuk proses pengembangan kualitas bagi segenap guru. Proses itu berlangsung dalam suasana informal, saling berbagi, bertanya, memberi kritik dan masukan, dan meneguhkan satu dengan lainnya. Keberlangsungan dan dinamika kegiatan tersebut harus berlangsung dalam semangat saling belajar dan relasi saling percaya.

Dan yang tidak kalah pentingnya, kreatifitas mengandaikan proses berpikir tidak linier atau lateral dalam melihat sebuah kebenaran. Perbedaan cara pandang dan ketidaksepakatan harus dihargai dan dihormati. Tidak perlu, anggota komunitas pembelajar sekolah, jatuh dalam tafsir seperti ketidaksopanan, keanehan, inkonsistensi, dan ketidakseragaman dalam memandang perubahan dan kreatifitas yang dilakukan gurunya.

Guru kreatif, terkadang mengajar dalam bingkai eksplorasi  dan  ketidakjelasan. Ia lebih mencari esensialitas, daripada rutinitas, atas apa yang dipelajari bersama siswanya. Ia akan tersenyum lebar, manakala menemukan siswanya bertanya “Pak saya menemukan hal berbeda, tidak seperti yang bapak katakan atau teman saya temukan, mengapa?”.

000

Penulis:

T Gunawan Wibowo, Guru SMA Kanisius, Sedang Belajar Instructional Leadership di Loyola University Chicago

Sumber: Harian Kompas, 20 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s