REFLEKSIANA

by thomas gunawan wibowo

My Paedagogy Creeds

Leave a comment

Saya percaya bahwa, guru itu sumur kang lumaku tinimba. Mata air tempat orang meneguk “kesejukan”. Ia menjadi tempat bagi orang bertanya. Oleh karena itu, guru dituntut mengayunkan langkahnya menuju puncak pengetahuan yang tak berhingga luas dan tingginya. Ia, bersama dan dengan sang murid, bermain dan menikmati hamparan pengetahuan itu.

Saya percaya bahwa, guru itu lebih dari sebuah pekerjaan. Ia adalah sebuah panggilan. Ia menjadi “kaya”, bukan lantaran materi yang dimilikinya, namun lebih karena apa yang telah dibagi kepada muridnya. Ia membagi hati, pikiran, perhatian, dan empati kepada setiap muridnya.

Saya percaya bahwa, guru adalah seoran seniman. Indahnya gambar yang di-“lukis” nya, sangat tergantung pada seberapa dalam dan cita rasa para muridnya menyelami indahnya kehidupan di dalam masyarakat. Ia melukis cita rasa muridnya itu dengan hati, dan caranya mendidik mereka.

Saya percaya bahwa, guru itu agen perubahan. Peran itu dijalankannya, tatkala ia sedia mengubah dirinya lewat perjumpaan dengan para murid, rekan sekolega, orang tua murid, dan dirinya sendiri. Ia mengubah orang di sekitarnya, dengan terlebih dahulu mengubah dirinya.

Saya percaya bahwa, guru bertanggungjawab atas pendidikan pluralisme di dalam masyarakat. Guru menjalankan tanggunjawabnya itu melalui peran dan aktifitas pengajaran yang dilakukan bersama para murid di sekolahnya. Ia menjadi bahasa pluralisme, dan bukan fanatisme. Ia hidup dalam universalita, dan bukan dalam dogmatika. Bagi seorang guru, hidup bukanlah sekedar hitam-putih, terkadang ia abu-abu, dan penuh berbagai cita rasa.

Saya percaya bahwa, guru itu tugasnya membimbing para muridnya. Membimbing agar mereka melihat, mengerti, mendalami, dan memaknai segala bentuk pengetahuan yang menyentuh ketertarikannya. Sebaliknya, ia bukan seorang “polisi”, yang melarang para muridnya berbuat ini dan itu.

Saya percaya bahwa, guru itu mengajar dan mendidik muridnya dengan bertanya. Ia bertanya berbagai hal, dengan berbagai cara, dengan berbagai motivasi, dengan berbagai tingkatan. Guru mengakui dan menyadari, bahwa pengetahuan sejatinya sudah tersedia dalam diri sang murid. Tugasnya adalah sekedar, menuntun, menunjukkan, membantu, dan memfasilitasi agar yang potensial itu menjadi aktual bagi setiap muridnya.

Saya percaya bahwa, guru itu selalu gelisah. Ia selalu gelisah tatkala muridnya tidak mampu menangkat apa yang diajarkannya. Ia terus mencari cara, agar sang murid segera menemukan pengetahuan miliknya itu. Namun, disimpannya kegelisahan itu terus di dalam relung hatinya yang dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s