REFLEKSIANA

by thomas gunawan wibowo

Sekolah Anti Kekerasan, Mungkinkah?

Leave a comment

Polsek Cilandak mengamankan 10 pelajar dari SMU Cendrawasih, mereka ditangkap saat menggeruduk STM Bakti Data (Detik. Com, 20/2/2009)

Bibir kanan Fiqih Fauzan (14), siswa kelas III Sekolah Menengah Pertama Negeri 52, Cipinang, Jakarta Timur, pecah karena dipukul guru olahraganya, Qdr. Saya ditonjok dari arah samping kanan,” kata Fiqih kepada wartawan di rumahnya di Jalan Media Massa RT 12 RW 01, Nomor 15, Cipinang Muara, Jaktim. Peristiwa itu sendiri terjadi saat upacara bendera sedang berlangsung (Kompas, 11/11/2009). Sementara itu, seorang siswa SMA 82 Jakarta, juga harus “terkapar” di rumah sakit karena dihajar para seniornya karena yang bersangkutan melewati jalur Gaza, sebuah selasar sekolah itu yang konon hanya boleh dilalui siswa kelas 12 semata.
Perilaku kekerasan di sekolah secara masif rupanya belum akan berhenti. Anjar Kusumo (17 tahun) mahasiswa baru Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), mendapat giliran menjadi korban perilaku kekerasan di kampus tersebut. Kasus meninggalnya mahasiswa belia itu ”diduga” kuat sebagai akibat praktek kekerasan yang dilakukan para seniornya dalam acara opspek di kampusnya (detknews.com, 27/9/2009). Atau, simaklah berita pagi Trans TV, tentang demo sekelompok siswa SMK 2 Makasar yang mengaku menjadi korban kekerasan (ditampar atau dicekik) oleh oknum Kepala Sekolahnya (Berita Pagi Trans TV, 15/10/2009).

Data jumlah kasus kekerasan diberbagai daerah juga menunjukkan terjadinya peningkatan kekerasan terhadap anak-anak. Di Sumatera Utara selama 2010, kasus kekerasan terhadap anak meningkat dibanding 2009 menjadi 153 kasus (Kompas.Com, 21 Januari 2011). Di Jakarta, pada tahun 2010, jumlah kekerasan seksual di Jakarta secara keseluruhan jumlahnya mencapai 2.235 kasus, dengan 68,2 persen di antaranya menimpa anak-anak (Kompas.Com, 28 Maret 2011). Secara global kekerasan ternyata terus terjadi di seluruh penjuru dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa setidaknya 2200 kasus kekerasan dalam setiap harinya telah terjadi di berbagai penjuru dunia. Kekerasan itu telah membawa kerusakan, trauma, kepedihan, luka, kemiskinan, dan kematian kepada anak-anak dan orang tua (Berita SCTV, 8/10/2009).

Tulisan ini mencoba mengajak pembaca merefleksikan apa dan bagaimana praktek kekerasan terjadi di sekolah, bagaimana bentuk-bentuk kekerasan, pelaku dan korban kekerasan di sekolah serta memberikan alternatif apa yang dapat dilakukan sekolah untuk mengurangi atau menghilangkan praktek kekerasan di sekolah.

Definisi kekerasan?

Peter Randall (1991) menjelaskan perilaku kekerasan dan intimidasi sebagai ”perilaku agresif yang muncul dari suatu maksud yang sengaja dilakukan untuk mengakibatkan tekanan kepada orang lain baik secara fisik maupun psikologis.”

Dalam prakteknya, batasan yang disampaikan Randall itu semakin berkembang lebih luas. Para peneliti meyakini bahwa kekerasan biasanya dilakukan secara sengaja dan berulang. Target yang dikenai kekerasan atau intimidasi akan dilakukan secara kontinyu, dan dipilih mereka yang tidak melakukan perlawanan.

Bahkan di sekolah, praktek intimidasi dapat terjadi di mana saja dan dilakukan oleh siapa pun juga. Baik dilakukan oleh remaja maupun oleh mereka yang menyebut diri orang dewasa. Ia bisa dilakukan sendiri, maupun oleh sekelompok orang. Pelaku intimidasi biasanya secara sengaja ”menyakiti” seseorang baik secara fisik, sosial maupun emosional.
Acapkali, intimidasi atau praktek kekerasan dilakukan secara terorganisir dan sistematis. Dikatakan terorganisir, karena praktek kekerasan yang terjadi di sekolah tersebut sejatinya telah ”diketahui” oleh pejabat atau administrator yang berwenang (misalnya praktek ”perploncoan” saat penerimaan siswa baru), namun tidak pernah ”diluruskan” atau dibenahi.

Sebaliknya, pejabat atau pimpinan sekolah pura-pura tidak tahu, dan menganggap keprihatinan dan keluhan siswa atau orang tua sekedar angin lalu. Masalahnya mulai akan menyita perhatian tatkala kejadian tersebut baru ”meledak” setelah media cetak (surat kabar atau majalah) atau media elektronik (televisi) menjadikannya headline berita.

Intimidasi dalam dunia Cyber yang marak pada waktu sekarang ini kiranya semakin sulit dikontrol. Di Amerika misalnya, menurut laporan York Region Parent Health di Ontario, dikatakan 60% siswa adalah pengguna chatting dan instant messaging. Hasil riset menunjukkan satu dari empat siswa melaporkan pernah menerima ancaman, 14% pernah menerima ancaman dari internet, 16% mengaku pernah memposting pesan-pesan yang mengintimidasi, dan 44% dilaporkan memiliki email account tanpa ijin dari orangtuanya.

Kepala Sekolah: Pelaku Intimidasi?
Bagaimana seorang Kepala Sekolah menjadi pelaku intimidasi? Ada beragam alasan mengapa seseorang ingin menjadi Kepala Sekolah. Parsons (2005), misalnya, menyebut karena seseorang memiliki Visi pribadi untuk mendidik siswa, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya; ada juga yang karena alasan ketrampilan yang dimilikinya; orang itu menyukai tantangan yang diberikan dan tentu saja bahwa setiap orang setuju karena faktor imbalan uang dan fasilitas yang akan diterimanya.

Namun jangan lupa, hampir semua Kepala Sekolah mengawali ”kariernya” sebagai Guru sebelumnya. Mereka mengajar dengan cara yang bersangkutan diajar saat mereka bersekolah dulu. Itu artinya, mengatur sekolah acapkali diibaratkan sama dengan mengatur siswa di kelas mereka dulu. Sebagian lain belajar menjadi Kepala Sekolah lewat rekan mereka atau karena kekaguman atas figur-figur dan cara kerja kepala sekolah yang mereka kagumi sebelumnya. Tentu saja situasi ini membawa mentalitas dan basic attitude yang kurang lebih ”sama” dengan apa yang telah mereka alami dan lakukan sebelumnya.

Ketidakpuasan terhadap perilaku Guru membuatnya merasa perlu untuk memberikan ”pelajaran” dengan cara mengacuhkan, mendiamkan, memarahi, atau juga melibatkan guru tersebut. Terhadap Guru yang ”lemah”, seorang Kepala Sekolah acapkali memberikan beban kerja yang berlebih dibandingkan dengan rekan kerja lain, pelecehan terhadap guru perempuan, mendiskreditkan dihadapan siswa atau rekan guru lain, menghambat karier kepangkatan dan golongan tanpa alasan yang rasional, tidak memberikan kesempatan sewajarnya dalam pengembangan karier dan profesionalitasnya, dan sebagainya.

Kesetaraan sebagai sesama orang dewasa mengakibatkan proses intimidasi biasanya tidak berlangsung secara vulgar dan kasat mata. Ia berlangsung dalam ”bungkus-bungkus” birokrasi, terstruktur, dan terlindung atas nama kepentingan organisasi. Satu sisi, hal ini bersifat positif karena proses kekerasan dan intimidasi itu tidak secara masif terjadi, namun di sisi lain justru berlangsung dalam intensitas dan kualitas yang tidak kalah memprihatinkan.

Guru sebagai Pelaku Intimidasi

Guru sebagai pelaku intimidasi sejatinya mudah dipahami. Ketidakseimbangan peran dan kekuatan antara guru dan siswa acapkalai menjadi sumber awal terjadinya perilaku menyimpang yang tidak pada tempatnya itu. Guru adalah pendidik para siswa. Ia tentu saja dilengkapi dengan berbagai atribusi sosial dan otoritas sebagai pendidik-penanggungjawab praktek pendidikan. Sebagai orang dewasa, seolah mereka dilengkapi dengan kekuatan untuk memerintah siswanya, dan para siswa wajib memahami dan menerimanya. Dan, jika itu yang terjadi maka lengkaplah proses intimidasi berlangsung.

Kapan sesungguhnya seorang guru menjadi seorang intimidator? Dr. Stuart Twemlow mendiskripsikan guru yang mengintimidasi tatkala sebagai guru ia hanya menggunakan kekuasaannya untuk menakut-nakuti, menghukum, memanipulasi, melecehkan, atau mengolok-olok siswa melebihi apa yang merupakan sebuah tindakan disipliner yang masuk akal”.

Guru yang menjadi pelaku intimidasi acapakali bersikap ”menjilat atasan” dan ”menendang ke bawah”. Artinya, ia akan menampilkan diri sebagai pribadi yang lembut dan berkelakuan baik kepada atasan, bahkan hal itu juga akan dilakukannya kepada orang tua yang berpendidikan dan bersikap kritis atas anak mereka di sekolah. Guru pelaku kekerasan dan intimidasi sangat tidak suka dengan orang tua yang suka mengajukan komplain atau ketidakpuasan kepada Kepala Sekolah.

Praktek kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh guru dapat terjadi dalam beragam bentuk. Pertama, kekerasan verbal. Perilaku ini dilakukan melalui penggunaan stereotip-stereotip dan penamaan yang berkonotasi seksis, rasis, kultur, sosio-ekonomi, kelemahan mental, dan homofobik. Misalnya, menyebut siswa si ”kurus” atau si ”gendut”, si ”Batak” atau si ”China”, si ”Hitam”. Bahkan acapkali perilaku homoseks atau lesbian di sekolah homogen diawali oleh penamaan yang secara sengaja atau tidak telah mereka lakukan.

Hal menarik yang patut dicatat di sini soal pelecehan seksual adalah penyebab pelecehan seksual sesungguhnya berakar pada penyalahgunaan kekuasaan dan bukan pada seksualitas itu sendiri, atau juga akibat pemberian kesempatan lain bagi pelaku intimidasi untuk mendominasi orang lain dan menampilkan superioritas.

Kedua, kekerasan fisik. Perilaku kekerasan ini dilakukan dalam bentuk mendorong, mengguncang, memukul penggaris, mencubit, menarik rambut atau telinga, melempar dengan kapur atau penghapus, menendang, meludah, mencolek bagian tubuh tertentu, dan sebagainya.
Ketiga, kekerasan sosial. Perilaku intimidasi yang terakhir ini bisa terjadi dalam bentuk mengucilkan pihak tertentu, menyebarkan gosip atau rumor yang menyesatkan, mempublikasikan masalah pribadi atau pihak tertentu untuk menjatuhkan, menggunakan relasi dengan teman sebagai instrumen untuk memanipulasi atau memaksa, menayangkan tulisan atau gambar untuk mendiskreditkan pihak lain melalui jejaring sosial seperti Web Site atau situs jejaring sosial lain (facebook, friendster, atau twitter).

Keempat, kekerasan psikologis. Kekerasan ini dilakukan misalnya dalam bentuk teriakan, berbicara secara kasar, menggertak, melempar atau menyobek pekerjaan siswa, mengacam siswa dengan hukuman, vonis nilai ulangan, mengacuhkan, tidak peduli, atau melecehkan pendapat/ pertanyaan. Kekerasan psikologis acapkali memiliki dampak yang jauh lebih mendalam dan meninggalkan luka batin yang tidak mudah disembuhkan. Bahkan dalam banyak kasus korban yang mengalami trauma, dan memerlukan pendampingan psikiater, dalam proses pemulihan dirinya.

Kelima, kekerasan yang berkaitan dengan profesionalisme. Misalnya, penilaian guru terhadap hasil pekerjaan siswa secara tidak adil; memeras siswa dengan nilai rendah untuk mendapat keuntungan ekonomis; penggunaan cara pendisiplinan siswa yang tidak pantas dan relevan dengan tujuan yang diberikan; penerapan hukuman kepada siswa secara tidak adil atau tidak berlaku sama untuk seluruh siswa; membohongi rekan kerja, orang tua, dan atasan; mengarahkan kegagalan dengan menerapkan standar yang tidak wajar; menghambat siswa untuk mendapat hak pengajaran yang sama, materi yang sama, atau remidiasi/ pengayaan; mengintimidasi orang tua yang karena hambatan bahasa, budaya, atau status sosial ekonomi tidak memungkinkan menyampaikan keluhan kepada sekolah.

Siswa adalah Korban dan Pelaku juga

Siswa dapat berperan sebagai pelaku kekerasan sekaligus juga dapat menjadi korban kekerasan atau intimidasi dari siswa lain. Hasil survei yang dilakukan Nansel dkk, sebagaimana dikutip Kathleen P., A (2010), dalam tulisannya berjudul Classroom Management, Bullying, and
Teacher Practices, tentang perilaku kekerasan para siswa sekolah-sekolah di Amerika menunjukkan bahwa hampir 30% siswanya terlibat dalam kekerasan (29,9 %). Dari angka itu, 13% siswa mengaku menjadi pelaku kekerasan; 10,6 % menjadi korban kekerasan dan 6,3 % pernah menjadi pelaku dan korban kekerasan.
Beberapa hal berikut ini menjadi alasan mengapa siswa terdorong untuk melakukan kekerasan.

Pertama, gangguan pengendalian diri. Banyak siswa mengalami gangguan pengendalian diri sejak lahir, sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Anak-anak seperti ini biasanya melihat dunia dengan permusuhan, mereka mengalami kegelisahan emosional, salah menafsirkan, dan salah memahami interaksi dengan orang lain, dan mengalami kesulitan untuk mengelola dorongan-dorongan kekerasan yang muncul pada dirinya. Para guru diharapkan melihat fenomena ini sebagai suatu gejala kelainan dan bukannya sebagai abuse atas kemauan/ kehendaknya sendiri, namun tentunya tidak untuk mentolerir atau membolehkan perilaku negatif itu terjadi.

Kedua, intimidasi yang dipelajari dari lingkungan. Di samping faktor internal seperti itu, sebagian siswa lain mengalami berbagai kekerasan yang mereka terima dari orang-orang di sekitarnya, dalam intensitas dan waktu yang lama. Mereka ”belajar” kekerasan melalui perlakuan kekerasan yang diterima dari orang dewasa di sekitarnya, menyaksikan dan merasakan perbuatan-perbuatan kejam (TV atau media cetak), atau melakukan tindakan kekerasan untuk suatu imbalan tertentu.

Pola salah asuh yang dialami anak oleh orang tua juga memberi warna terhadap agresifitas yang terjadi pada anak-anak. Penggunaan hukuman fisik yang tidak terkontrol oleh orang tua, hukuman yang tidak konsisten, pemanjaan yang berlebihan acapkali juga dapat mendukung perilaku agresif yang terjadi pada mereka. Orang tua perlu waspada terhadap perilaku agresif yang dialami anaknya sejak dini, hal ini dikarenakan bahwa sikap agresif anak-anak justru dialami pada masa pra sekolah.
Ketiga, melakukan intimidasi untuk mendapatkan atensi. Kekerasan atau intimidasi dilakukan oleh siswa kepada siswa lain biasanya dilandasi oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain misalnya uang jajan, hasil pekerjaan rumah (PR), jawaban tes, atau kesenangan tertentu.

Keempat, alasan harga diri dan hirarki sosial. Banyak siswa melakukan intimidasi karena latar belakang untuk membangun dan memelihara suatu hirarki. Dengan melakukan paksaan, manipulasi, atau penipuan terhadap korban mereka, mereka berharap mendapat pengakuan bahwa mereka atau kelompoknya lebih ”hebat” dibandingkan kelompok atau orang yang mereka intimidasi. Untuk membenarkan itu, mereka melakukan rasionalisasi dengan bersembunyi dibalik kelalain orang lain yang dibuat-buat.
Peran Guru?

Guru sangat diharapkan menjadi pelopor praktek anti kekerasan dan intimidasi melalui beberapa hal praktis yang dapat dilakukan di sekolah.
Pertama, hentikan segala bentuk praktek pelecehan. Seorang guru perlu mengawali dengan cara menghentikan praktek-praktek kekerasan yang mereka lakukan selama ini. Pada sisi lain yang bersangkutan juga harus memiliki komitmen untuk mengatakan bahwa perilaku setiap perilaku kekerasan terhadap siswa yang terjadi di sekitarnya perlu dihentikan, dan setiap perilaku kekerasan perlu diselidiki secara tuntas.

Kedua, lakukan sosialisasi dan diskusi tentang isu intimidasi pada level apapun. Sekolah perlu mempunyai komitmen dan program-program sekolah yang mendukung program anti kekerasan. Langkah dan kegiatan sosialisasi yang kontinyu juga perlu dilakukan sebagai bagian dari kampanye soal itu. Hal ini dilakukan untuk menanamkan budaya malu jika melakukan kekerasan. Pembicaraan yang intensif dan sosialisasi dapat dimulai dari tingkat kelas oleh wali kelas misalnya, sampai ke tingkat yang lebih besar.

Ketiga, bersikap proaktif. Gunakanlah beragam pendekatan dan cara untuk menggali dan mengeksplorasi lebih jauh apa itu dan bagaimana praktek intimidasi terjadi di sekolah. Dengan bersikap proaktif, si guru akan dibantu untuk mengenal dan memahami bentuk-bentuk terkini perkembangan model-model intimidasi di sekolah, berikut cara mengantisipasi serta menanganinya.

Keempat, bicaralah dengan administrator sekolah. Bicaralah dengan administrator sekolah, agar masalah ini cepat mendapat perhatian. Sekiranya, cara ini dianggap kurang memberi kenyamanan bagi anda sendiri, usahakanlah bicara dengan guru lain yang anda sendiri merasa bahwa yang bersangkutan memiliki komitmen penyelesaian soal ini. Dan, usahkanlah membangun jaringan bagaimana menangani atau mencegah lebih jauh dampak kekerasan tersebut bagi si koraban atau siswa lainnya.

Kelima, ajaklah siswa untuk melihat intimidasi sebagai masalah serius. Janganlah membiarkan para siswa memandang bahwa intimidasi dan kekerasan adalah masalah yang remeh. Cepatlah menegur dan mengingatkan para siswa yang mulai menggunakan bahasa yang melecehkan atau berkonotasi sarkasme, sekali pun yang bersangkutan hanya berdalih atas gurauan, seperti ”pelacur”, ”sundal”, dan sebagainya.

Keenam, hormati kerahasiaan informasi dari para siswa. Guru harus memberi jaminan dan bisa dipercaya akan melindungi seorang siswa korban pelecehan atau intimidasi di sekolah, baik hal tersebut dilakukan oleh siswa lain maupun oleh rekan kerjanya sendiri. Jika guru tidak menyimpan rahasia itu dengan baik, maka sikap percaya dan trust yang diberikan siswa korban pelecehan itu tidak akan terjadi lagi. Akibatnya, akan sangat mungkin terjadi bahwa pelecehan yang lebih buruk justru akan terjadi dalam skala yang lebih besar lagi. 000 (tulisan lengkap sudah dipublikasikan di buku “Menjadi Guru Kreatif”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s